Entogong Jali Dikumpulkan oleh Gina

Adat Istiadat Kita

Adat Istiadat Kita

Adat Istiadat Kita

22:44 menit

Tradisi dan adat istiadat di sepanjang Sungai Sekayu memiliki banyak perbedaan, namun semuanya memiliki muara pada pencarian asal-usul yang pasti. Salah satu inti dari adat kami adalah tata cara dalam mencari pasangan hidup serta aturan pernikahan yang diwariskan oleh orang tua zaman dahulu. Terdapat kisah tentang asal-usul adat beristri tujuh, yang konon bermula dari perintah burung tingang. Namun, cerita itu juga membawa peringatan tentang ketidakadilan, di mana beristri banyak sering kali membuat anak-anak dari istri muda tidak disayang, sebuah sisi kelam yang menjadi bagian dari hikayat adat kami.

Selain urusan manusia, alam gaib juga mewarnai kepercayaan kami, terutama mengenai keberadaan ular yang sering menumpang hidup atau menjelma menjadi manusia. Makhluk ganjil ini dipercaya bisa muncul dari air, dari dalam batang kayu, hingga dari dalam tanah karena mereka diberikan kuasa untuk hidup berpasangan. Keyakinan ini menekankan bahwa setiap binatang besar harus memiliki pasangan agar keseimbangan hidup tetap terjaga. Hal ini menjadi bagian dari narasi turun-temurun yang disampaikan oleh para orang tua kepada generasi muda.

Pada zaman dahulu, orang tua kami dikisahkan tidak mengonsumsi nasi seperti sekarang, melainkan padi kecil dan padi besar yang asal-usulnya berasal dari tokoh bernama Adi. Melalui istri Adi Bata, padi-padi tersebut berubah menjadi kecil dan menyebar ke mana-mana. Seiring berjalannya waktu, manusia yang awalnya tidak mengenal nama adat mulai menyusun aturan hidup yang semakin bertambah. Aturan-aturan inilah yang kemudian berkembang hingga mencapai masa Adat Abang Onyok.

Adat Abang Onyok sering dianggap sebagai dongeng karena sulitnya menemukan bukti nyata di masa sekarang. Kisah ini bermula pada zaman dewa-dewa, saat langit masih rendah dan pohon-pohon raksasa masih bisa dicapai oleh manusia. Pada masa itu, tokoh Bujang Beji berusaha menebang kayu untuk membunuh Somah yang berada di atas. Namun, Somah justru menertawakan upaya tersebut dari khayangan. Abang Onyok sendiri adalah anak dari Soma Gagang Rintang, seorang putra dewa yang memiliki pangkat tinggi di khayangan.

Keberadaan Abang Onyok di bumi bermula dari sebuah kecelakaan saat ayahnya, Soma, sedang berlari menghindari Bujang Beji. Dalam pelariannya, anak yang berada di genggaman Soma terlepas karena terkena garam dan jatuh ke bumi. Menurut hukum alam saat itu, siapa pun yang sudah jatuh ke bumi tidak dapat dibawa kembali ke khayangan. Abang Onyok terjatuh di kawasan Gunung Muncak, dan meskipun ayahnya mencoba menelusurinya menggunakan bambu kuning, ia tetap harus merelakan anaknya hidup sebagai penghuni bumi.

Di bumi, Abang Onyok hidup tanpa pengasuh dari kalangan dewa, sehingga diturunkanlah para pelayan yang dalam bahasa kami disebut budak untuk mengasuhnya. Zaman itu digambarkan sebagai masa yang keras, di mana terdapat pembagian kasta antara tuan dan budak yang bertugas memotong kayu atau memberi makan ternak. Di tengah kondisi tersebut, terjadi peristiwa besar yang melibatkan "Longkong Pelangka" di Sungai Kayan. Pelangka atau wadah yang turun dari langit itu jatuh karena kemarahan suami Soma yang pangkat pertama setelah ia merasa terganggu oleh keberadaan anaknya di bumi.

Kisah berlanjut saat Abang Onyok tumbuh dewasa di Gunung Rujah. Meskipun ia adalah keturunan dewa, fisiknya tidak sempurna; kakinya menderita sakit kulit atau koreng yang parah. Untuk menghibur diri, ia meniup seruling bambu yang dikirimkan ibunya dari khayangan. Suara seruling itu begitu merdu hingga terdengar jauh melintasi lautan sampai ke tanah Jawa, tepatnya ke Tasikmalaya. Suara itulah yang kemudian memikat hati seorang putri bernama Dayang Melayu.

Dayang Melayu, yang merupakan anak dari kalangan kerajaan sakti di Jawa, memutuskan untuk mencari sumber suara merdu tersebut. Ia mudik menuju hulu sungai menggunakan perahu dan permadani ajaib bersama tujuh atau delapan pengiringnya. Dalam perjalanannya, ia sempat bertanya tentang nama-nama sungai. Salah satu sungai dinamai Sungai Melawi karena jawaban penduduknya yang sedang membelah rotan atau "uwi". Pencariannya berlanjut hingga ia sampai ke muara Sungai Kayan yang saat itu masih tertutup oleh akar berudu dan tanaman bemban.

Dengan menggunakan pisau sakti bernama Pisau Melati, Dayang Melayu memotong akar-akar besar yang menghalangi jalan hingga muara sungai terbuka. Ia terus mudik sampai ke daerah pasar hilir dan menemukan Abang Onyok sedang bersama pengasuhnya, Inong dan Balu. Di sana terdapat bukti nyata berupa Batu Pusa Balu yang digunakan untuk mencuci pakaian. Dayang Melayu yang cantik akhirnya bertemu dengan Abang Onyok, sang pemilik suara seruling yang ia cari selama ini.

Meskipun Dayang Melayu ingin menjadikannya suami, Abang Onyok merasa sangat rendah diri karena kondisi fisiknya yang hitam dan penuh koreng. Ia sempat merasa malu dan takut untuk menemui sang putri. Namun, dalam tidurnya, ia bertemu dengan roh ayahnya yang merupakan dewa. Ayahnya menenangkan Abang Onyok dan menyuruhnya mandi di sebuah sungai kecil di belakang rumahnya di puncak gunung. Setelah mandi, korengnya hilang dan ia berubah menjadi pemuda yang tampan, meskipun kakinya tetap terlihat sedikit lebih kecil dari orang biasa.

Pernikahan Abang Onyok dan Dayang Melayu pun dilangsungkan dengan disaksikan oleh Inong, Balu, serta para pengikut dari Jawa. Setelah sekian lama hidup bersama di Gunung Muncak, mereka dikaruniai anak, namun proses kelahirannya mengalami kendala sehingga anak-anak mereka lahir dengan fisik yang tidak sempurna. Abang Onyok kembali meminta petunjuk kepada roh ayahnya. Sang ayah menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena mereka menikah tanpa mengikuti aturan adat yang benar, sehingga ia diperintahkan untuk melakukan perhitungan adat menggunakan kayu belian.

Sejak saat itulah, Adat Abang Onyok resmi digunakan dan dihitung secara teliti, mulai dari syarat lamaran, tombak penutup pintu, hingga nilai empat ratus padi. Adat inilah yang kemudian diwariskan secara turun-temurun di suku Dayak Kebahan dan Kayan untuk mengatur pernikahan, masa kehamilan (mopat asam), hingga upacara memandikan anak (monek anak). Hingga kini, aturan adat ini tetap dihormati sebagai warisan luhur, termasuk larangan memakan babi yang dianggap pamali serta tata cara penguburan atau pembakaran jenazah bagi mereka yang telah tiada.