Apangk Iyu
Apangk Iyu
Pada suatu sore yang mulai temaram, Bapak Iyu pergi ke sungai untuk memasang bubu. Dengan cekatan, ia menempatkan perangkap ikan itu di lokasi yang strategis. Setelah pekerjaannya selesai, ia pun segera bergegas pulang ke rumahnya. Hari sudah semakin larut ketika ia tiba.
Malam pun tiba menyelimuti desa. Di dapur, ibunya sedang sibuk memasak hidangan makan malam untuk mereka berdua. Setelah menikmati santapan, waktu pun menunjukkan bahwa malam telah larut. Mereka memutuskan untuk segera beristirahat dan tidur.
Keduanya terlelap dalam tidur yang nyenyak, namun Bapak Iyu terbangun di tengah malam. Pikirannya tidak bisa lepas dari bubu yang telah dipasangnya tadi sore. Ia merasa harus segera mengambil bubu tersebut, berharap mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah. Dengan tekad bulat, ia pun beranjak dari tempat tidurnya.
Bapak Iyu berjalan menuju sungai membawa tas anyaman rotan untuk menampung hasil tangkapannya. Ia tahu bahwa mengambil bubu berarti harus berkubang dalam air dan lumpur yang becek. Setelah berhasil menarik bubunya, ia memutuskan untuk sekalian membersihkan diri di sungai. Ia pun melepaskan sisa-sisa pakaiannya yang sudah robek, bahkan tak mengenakan sehelai benang pun.
Sambil menggosok-gosok tubuhnya, ia melayangkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada yang melihatnya. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang bergerak di air. Seekor lele besar muncul ke permukaan, membuat Bapak Iyu terperanjat sekaligus gembira. Tanpa pikir panjang, ia berteriak memanggil ibunya yang berada di rumah.
Jarak rumah mereka dari sungai memang tidak terlalu jauh. Tak lama kemudian, sang ibu datang tergesa-gesa, membawa serampang, sejenis tombak ikan bermata tiga. "Ada apa?" tanya ibunya panik melihat anaknya berteriak-teriak. "Ada lele, Ibu!" jawab Bapak Iyu penuh semangat.
Ibunya segera bertanya di mana lele itu berada, siap untuk melempar serampang. Namun, Bapak Iyu yang sudah terlanjur bersemangat, justru mengambil alih serampang itu dari tangan ibunya. Dengan keyakinan bahwa ia bisa menangkap lele besar tersebut, ia pun mengayunkan serampang itu. Malang tak dapat ditolak, serampang itu bukan mengenai lele, melainkan justru menghantam bagian kelaminnya sendiri.
Rasa sakit yang luar biasa segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Bapak Iyu terengah-engah menahan perih, hampir saja kehilangan kesadaran. Ia menjerit kesakitan, memanggil-manggil ibunya untuk meminta pertolongan. Ibunya yang melihat kejadian itu segera mendekat dengan wajah cemas. "Itu bukan lele, Nak, itu ikan bansai," kata ibunya, mungkin untuk menenangkan atau menggambarkan betapa parahnya luka itu.
Bapak Iyu yang sudah tidak mampu berjalan, meminta ibunya untuk menggendongnya pulang. Ibunya dengan sigap berusaha menggendongnya di punggung. Namun, dalam kondisi kesakitan yang hebat, Bapak Iyu terus mengoceh, mengeluhkan cara ibunya menggendongnya, ia ingin digendong "senentang nentang" atau diangkat ke atas bahu, merasa cara ibunya tidak nyaman.
Permintaan-permintaan Bapak Iyu yang rewel membuat ibunya merasa risih dan kesal. Mereka harus melewati jalan setapak yang penuh semak belukar dan duri-duri tajam. Mungkin karena lelah dan jengkel, sang ibu akhirnya melempar Bapak Iyu begitu saja. Ia terjatuh di antara akar-akar remundang dan duri-duri rotan yang lebat.
Hari pun sudah semakin gelap, dan Bapak Iyu terjebak di tempat itu. Ibunya, yang sudah terlanjur kesal, memutuskan untuk pulang sendirian. Ia kembali ke rumah, mengurus dirinya sendiri, memasak makan malam, dan kemudian tidur dengan tenang. Api di tungku pun dimatikan, meninggalkan Bapak Iyu sendirian dalam kegelapan malam.
Sementara itu, Bapak Iyu meratap kesakitan di tengah semak belukar. Dengan luka di kelamin dan tubuh yang lemas, ia berusaha berjalan dalam gelap gulita untuk mencari jalan pulang. Namun, menemukan rumah dalam kondisi seperti itu sangatlah sulit, apalagi tanpa penerangan. Ia berjalan terseok-seok, terus mencari petunjuk.
Tiba-tiba, ia melihat kunang-kunang terbang berkeliling. Dalam keputusasaan, ia mengira cahaya kecil itu adalah pelita dari rumahnya yang berada di ujung tapang. Dengan susah payah, ia memanjat ke atas tapang tersebut. Namun, setelah sampai di puncak, ia menyadari bahwa itu bukanlah rumahnya.
Ia pun turun kembali dan melanjutkan perjalanannya. Tak lama kemudian, ia kembali melihat kunang-kunang yang terbang. Kali ini, ia mengira cahaya itu berasal dari pelita yang diletakkan di tiang sandung. Sebuah tiang sandung adalah bangunan adat untuk menyimpan tulang belulang leluhur, yang sering kali berada di tempat yang sepi.
Dengan harapan menemukan jalan pulang, ia memanjat tiang sandung tersebut. Saat meraba-raba dan berpegangan, ia tanpa sengaja mengganggu sarang lebah yang ada di dalamnya. Seketika, lebah-lebah itu menyerangnya tanpa ampun. Bapak Iyu pun jatuh terpelanting ke tanah dan tergeletak di sana hingga pagi menjelang.
Ketika hari mulai terang, Bapak Iyu yang sudah tidak berdaya akhirnya merayap pulang ke rumah. Kondisinya sangat memprihatinkan; luka di kelaminnya semakin parah, tubuhnya bengkak karena sengatan lebah, dan ia merasa sekarat menahan sakit. Dengan sisa-sisa tenaga, ia berhasil sampai di depan pintu rumahnya.
Pagi itu, ibunya sangat sibuk mencari segala macam obat-obatan tradisional. Ia berusaha mengobati luka-luka Bapak Iyu yang menganga, bagian kulit yang terkelupas, dan bekas sengatan lebah di sekujur tubuhnya. Sang ibu merawatnya dengan telaten, berharap anaknya segera pulih.
Berkat perawatan sang ibu, Bapak Iyu perlahan-lahan mulai sembuh. Ia pulih dari pengalaman pahit yang hampir merenggut nyawanya. Kisah tragis malam itu menjadi pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan.