Cet Inai
Cet Inai
Inilah sebuah kisah lisan yang dikenal dengan sebutan kana Cet Inai, sebuah riwayat lampau yang bermula dari negeri Kahyangan. Pada zaman dahulu, orang-orang dari Kahyangan turun ke hamparan bumi ini dengan menggunakan sebuah alat yang bernama pelangkar. Ketika pelangkar tersebut ditarik kembali ke atas, ada sosok yang terlambat sehingga ia tertinggal dan tidak bisa pulang. Sosok perempuan yang tertinggal di bumi inilah yang kelak menjadi ibu dari seorang anak laki-laki bernama Cet Inai.
Karena tidak memiliki pilihan lain, ibu Cet Inai yang tidak diketahui nama aslinya itu akhirnya mulai membuka ladang di bumi. Waktu pun terus berjalan hingga anak laki-lakinya yang bernama Cet Inai tumbuh menjadi seorang anak yang besar. Saat musim berladang tiba, sang anak mulai menyuarakan keinginannya untuk segera menyantap hidangan berupa nasi. Permintaan akan nasi itu terus ia ucapkan kepada ibunya setiap kali musim berladang datang.
Mendengar rengekan anaknya, sang ibu dengan lembut memintanya untuk bersabar karena ia masih sibuk menebas belukar di ladang. Sembari menunggu, Cet Inai bertahan hidup dengan memakan segala yang ada, termasuk butiran padi raksasa yang ukurannya sebesar buah mawang. Waktu berbulan-bulan pun berlalu, namun keinginan Cet Inai untuk menyantap nasi sungguhan tidak pernah surut sedikit pun. Ia terus memanggil ibunya untuk menagih janji tentang nasi yang sangat diidam-idamkannya itu.
Sang ibu kembali menasihati anaknya agar tetap sabar karena tahapan berladang masih berada pada masa menebang pohon. Setelah penebangan selesai dan waktu berlalu cukup lama, anak laki-laki itu kembali merengek meminta nasi kepada ibunya. Sekali lagi, sang ibu menenangkannya dengan mengatakan bahwa dirinya masih harus membakar sisa-sisa tebangan di ladang tersebut. Begitulah keadaan yang terus berulang, di mana setiap waktu dan setiap musim Cet Inai selalu menanyakan kehadiran nasi.
Sesudah ladang selesai dibakar, tiba saatnya bagi sang ibu untuk mulai menanam benih-benih padi. Sepanjang ibunya bekerja menanam hingga membersihkan rumput, Cet Inai tidak henti-hentinya menyuarakan keinginannya untuk makan nasi. Jawaban sang ibu pun selalu sama, memintanya untuk bersabar karena proses pembersihan rumput liar masih belum usai. Sikap sabar itu terus diminta oleh sang ibu sejak masa menyiangi rumput hingga tibanya waktu panen.
Ketika tanaman padi itu akhirnya berbuah lebat, Cet Inai kembali menagih nasi yang telah lama ia tunggu. Sang ibu yang sedang sibuk mengingatkannya lagi untuk menahan diri karena ia masih harus memanen padi-padi tersebut. Setelah seluruh hasil panen terkumpul, barulah disadari bahwa benih yang ditanam selama ini ternyata hanyalah padi ketan. Meskipun demikian, Cet Inai tetap mendesak meminta nasi, sementara ibunya masih harus menumbuk bulir-bulir padi ketan itu.
Setelah padi selesai ditumbuk, sang ibu sempat berpikir sejenak mengenai cara untuk menanak beras ketan tersebut. Demi memenuhi keinginan Cet Inai, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke seberang guna menebang sebatang pohon bambu. Bambu yang telah ditebang itu kemudian dibawa pulang ke rumah untuk dijadikan wadah memasak beras ketan. Sang ibu memasukkan beras beserta air ke dalam ruas bambu itu, lalu membakarnya di atas perapian hingga matang menjadi nasi.
Setelah nasi di dalam bambu itu matang, sang ibu menyimpannya di atas tempat penyimpanan kayu api pada perapian dapur tanah. Ia berpesan kepada anaknya bahwa nasi itu akan dimakan nanti karena dirinya hendak pergi mandi terlebih dahulu. Cet Inai yang sudah melihat keberadaan nasi di dalam bambu itu pun seketika berhenti merengek. Sementara sang ibu turun ke sungai untuk membersihkan diri dari rasa panas akibat memasak, sang anak justru mengambil kesempatan di dalam rumah.
Penantian selama satu tahun lamanya membuat kesabaran Cet Inai habis saat melihat nasi sudah berada di depan mata. Ia segera memanjat ke atas perapian karena tidak sabar lagi untuk mencicipi makanan yang sangat diidamkannya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menggigit batang bambu yang masih membungkus nasi ketan tersebut. Nahasnya, ujung bambu yang tajam itu justru memotong lidah Cet Inai hingga putus.
Darah seketika tumpah dari mulut Cet Inai yang lidahnya telah terputus oleh tajamnya bilah bambu. Tubuh anak laki-laki itu kemudian terjatuh dari atas tempat penyimpanan kayu bakar hingga menghantam lantai bagian bawah. Dari kejauhan, sang ibu mendengar suara dentuman keras yang disangkanya seperti suara orang yang sedang membangun rumah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa suara itu berasal dari tubuh putranya yang meregang nyawa karena gagal memakan nasi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian di sungai, sang ibu bergegas pulang menuju ke rumahnya. Sesampainya di sana, ia menemukan Cet Inai telah meninggal dunia dengan kondisi lidah buntung akibat terkena bambu berisi nasi. Sang ibu kebingungan mencari cara untuk mengurus jenazah anaknya karena mereka menumpang tinggal di tanah milik penguasa bernama Mia. Pada zaman dahulu, panggilan Mia ditujukan untuk para perempuan, sedangkan kaum laki-laki biasa dipanggil dengan sebutan Mamang.
Sebagai pendatang dari Kahyangan yang miskin tanah di bumi, sang ibu harus membuat peti jenazah terlebih dahulu dari kayu Pelaik yang lembut. Setelah jenazah Cet Inai dimasukkan ke dalam peti bulat dan diikat, ibunya berniat untuk segera mencari cara agar bisa kembali ke langit. Namun sebelumnya, ia mendatangi Mia yang berjumlah tujuh bersaudara untuk memohon izin menguburkan anaknya di tanah mereka. Sang ibu bertanya kepada Mia tertua, tetapi permintaannya ditolak karena area pantai ditumbuhi serai, kaki tangga untuk babi, dan sisi lainnya tempat ayam mencari makan.
Penolakan terus berlanjut hingga kepada Mia yang keenam, membuat sang ibu akhirnya disarankan untuk menemui Mia Bungsu. Sesuai dengan kepercayaan orang tua zaman dahulu, anak bungsu memang seringkali memiliki sifat yang paling baik dibandingkan saudara tertuanya. Ketika ditemui, Mia Bungsu dengan tulus mengizinkan ibu Cet Inai untuk menguburkan anaknya di bagian tanah mana saja sesuka hatinya. Ia memperbolehkan jenazah itu dimakamkan di kaki tangga, belakang rumah, tepian sungai, lereng, maupun di bagian daratan.
Setelah Cet Inai dikuburkan dengan layak, sang ibu naik ke rumah Mia Bungsu untuk menyampaikan sebuah pesan penting. Ia berpesan agar Mia Bungsu menggali kuburan tersebut pada hari ketujuh, lalu menggosokkan sepotong kayu runcing hingga menembus petinya sebelum dibuka. Mia Bungsu menyanggupi permintaan itu dan kemudian bertanya ke mana arah tujuan sang ibu selanjutnya. Sang ibu menjawab bahwa ia ingin mengikuti kehidupan Sengayan dan mopai kawan dua bana mengangkat induknya, meski tak tahu arah pasti karena pelangkar tak kunjung diulurkan.
Tepat pada hari ketujuh, Mia Bungsu melaksanakan amanah tersebut dengan menggali kembali kuburan Cet Inai. Ia mengikat seutas tali, mengiris sedikit bagian peti, lalu menggosokkan kayu runcing dari atas ke bawah hingga tembus. Gesekan kayu tersebut perlahan-lahan menghasilkan asap pekat yang keluar menembus celah-celah peti jenazah. Setelah ditunggu beberapa saat lamanya, Mia Bungsu pun memberanikan diri untuk membuka penutup peti tersebut.
Alangkah terkejutnya Mia Bungsu ketika melihat mayat Cet Inai sudah lenyap tak berbekas dari dalam peti jenazah. Di tempat itu hanya tersisa wujud barang-barang, termasuk sebuah botol yang disebut sebagai botol Kinta, sementara peti jenazahnya telah berubah menjadi tembaga. Tubuh Cet Inai dipercaya telah pulang kembali ke atas langit melalui rohnya, menyusul ibunya yang juga menghilang tanpa jejak. Demikianlah akhir cerita Cet Inai, sebuah bukti bahwa orang dari Kahyangan yang turun ke bumi memang sangat susah untuk bisa kembali lagi.