Mamang Kerobau
Mamang Kerobau
Inilah sebuah penuturan lisan dari zaman dahulu yang mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang laki-laki bernama Mamang Kerobau. Sesuai dengan cerita yang diwariskan oleh para orang tua, sosok Mamang Kerobau ini memang sangat dikenal sebagai seorang pria yang agak pemalas. Sifat pemalasnya itu membuat hari-harinya berlalu tanpa ada pekerjaan berarti yang ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam kesehariannya, Mamang Kerobau hidup dan tinggal bersama-sama dengan seorang perempuan yang telah menjadi istrinya. Laki-laki pemalas itu memang sudah memiliki istri yang dengan setia mendampingi kehidupannya di lingkungan keluarga tersebut. Selain tinggal bersama sang istri, di tempat itu juga ada sosok ibu dan ayah yang masih harus mengurus mereka berdua.
Kondisi Mamang Kerobau yang tidak mau selamat bekerja membuat beban hidup keluarga sepenuhnya ditanggung oleh orang tuanya. Untuk urusan perut dan mencari makan sehari-hari, hanya ibu dan ayahnya sajalah yang harus berusaha keras demi menghidupi mereka semua. Akibat kelakuannya yang pasif itu, Mamang Kerobau selalu saja dimarahi secara terus-menerus oleh kedua orang tuanya.
Mendapat teguran tanpa henti dari orang tuanya, Mamang Kerobau pada akhirnya berniat untuk membalas perlakuan tersebut dengan sebuah pembuktian. Pada zaman dulu kala, kehidupan Mamang Kerobau ini diyakini masih sangat berdekatan dengan keberadaan dan kuasa para dewa. Kedekatan dengan kuasa gaib itulah yang kelak membantunya untuk memulai sebuah pekerjaan besar tanpa diketahui oleh siapa pun.
Secara diam-diam, Mamang Kerobau mulai membuka lahan dan memulai tahapan berladang di sebuah tempat yang sangat tersembunyi. Setiap kali berangkat menuju lokasi ladangnya, ia selalu memilih rute perjalanan yang hanya melalui jalur air saja. Ia sama sekali tidak mau berjalan melewati daratan karena merasa sangat takut pekerjaannya itu akan diketahui oleh orang tuanya.
Setibanya di lokasi yang dirahasiakan itu, Mamang Kerobau pun bekerja membuka ladangnya dengan sangat tekun. Ia terus-menerus berladang tanpa kenal lelah, mulai dari tahapan membakar lahan hingga proses menanam benih-benih padinya. Pekerjaan yang ia rahasiakan itu dilakukannya secara konsisten sampai tanaman padinya benar-benar tumbuh dan mulai menghasilkan.
Di tengah proses panjang pembuatan ladang tersebut, sempat terjadi sebuah ketegangan antara Mamang Kerobau dengan istrinya. Suatu hari, ia berkata kepada istrinya bahwa jika perempuan itu tidak mau lagi hidup dengannya, sebaiknya ia pulang saja agar mereka bisa bercerai. Mendengar ancaman suaminya itu, sang istri bersikukuh menolak dan sama sekali tidak mau untuk diceraikan begitu saja.
Penolakan dari istrinya itu membuat Mamang Kerobau pada akhirnya mengabaikan perempuan tersebut dan membiarkannya begitu saja. Selama masa pengabaian itu, urusan mencari makan untuk sang istri tetap saja menjadi beban yang harus ditanggung oleh orang tua Mamang Kerobau. Keadaan rumah tangga mereka pun seolah menggantung, sementara Mamang Kerobau terus memusatkan perhatian pada ladang rahasianya.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya hamparan tanaman padi di ladang rahasia itu sudah tiba pada masa panen. Tiba-tiba saja, Mamang Kerobau mendatangi istrinya dan langsung mengajaknya dengan berkata, "Ayo kita pulang ke ladang." Sang istri yang merasa sangat kebingungan dengan ajakan mendadak itu sontak bertanya kepada suaminya di mana sebenarnya letak ladang tersebut.
Meskipun dipenuhi dengan rasa heran yang mendalam, sang istri pada akhirnya tetap melangkah ikut ke ladang bersama suaminya. Setelah mereka berdua datang dan tiba di lokasi yang dituju, perempuan itu sangat terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Di tempat itu ternyata sudah berdiri sebuah rumah beserta hamparan ladang padi yang tinggal turun untuk dipanen.
Melihat pemandangan yang luar biasa itu, entah bagaimana persisnya, Mamang Kerobau dan istrinya yang sering dipanggil Miya Kerobau pun tetap hidup sama-sama. Mereka berdua kemudian saling bahu-membahu untuk memanen padi yang telah menguning di lahan yang kondisinya berjurang-jurang tersebut. Tidak disangka-sangka, hasil panen yang mereka peroleh dari ladang berjurang-jurang itu sangat melimpah ruah dan menghasilkan beribu-ribu padi.
Keberhasilan panen yang melimpah itu seketika membuat sifat Mamang Kerobau berubah drastis menjadi sosok laki-laki yang bisa rajin. Setelah orang tuanya mengetahui bahwa ia diam-diam berladang dan sukses, mereka akhirnya mau menerima dan berbaik hati kepada Mamang Kerobau. Sejak saat itu, ia telah membuktikan bahwa dirinya mau berusaha dan sudah tidak lagi mengandalkan pemberian orang tuanya.
Semua pencapaian luar biasa Mamang Kerobau itu diyakini tidak lepas dari kemampuannya yang masih bisa bergaul dengan para dewa pada masa lampau. Dewa-dewa dari atas itulah yang dengan murah hati terus memberinya rezeki berupa ladang yang berjurang-jurang dengan hasil beribu-ribu padi. Demikianlah akhir dari cerita pendek mengenai sosok Mamang Kerobau yang diwariskan dari para orang tua di masa lalu.