Entogong Jali Dikumpulkan oleh Adel

Mensia Begaol dongan Koleng Gana

Mensia Begaol dongan Koleng Gana

Mensia Begaol dongan Koleng Gana

Pada zaman dahulu kala, kehidupan manusia masih sangat berdampingan dan bisa bergaul bebas dengan entitas yang disebut Koleng Gana. Namun, pada zaman sekarang ini, keberadaan mereka sudah sama sekali tidak bisa lagi dilihat oleh mata manusia. Kini, yang tersisa hanyalah kenyataan berupa aliran sungai sebagai jejak bisu masa lalu.

Jejak keberadaan orang-orang Koleng Kana ini diyakini masih ada dan melekat di wilayah Nanga Tebidah. Di tempat ini, terdapat sebuah aliran air yang secara khusus dikenal dengan nama Sungai Langang Pabong. Lokasi persis sungai bersejarah ini berada tepat di belakang bangunan masjid lama yang sudah sangat tua. Kawasan tersebut membentang hingga menjangkau bagian hulu di seberang daerah Nanga Tebidah.

Dari wilayah bersejarah itulah kami mulai belajar untuk menceritakan kembali berbagai kisah rakyat dari masa lalu. Menurut penuturan cerita tersebut, pada zaman dahulu kami memang benar-benar bergaul erat dengan mereka. Interaksi manusia terjalin sangat baik dengan sosok-sosok seperti Koleng Peramang dan Koleng Peramak. Selain itu, para leluhur juga senantiasa berbaur dengan segala orang yang berasal dari daerah Nanga Jaba.

Pada masa keakraban itu, para leluhur kami masih bisa leluasa bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Abang Sengkumang. Manusia pada zaman tersebut masih sanggup berbicara secara langsung dengan segala jenis hantu atau makhluk dari alam lain. Kadang-kadang, perjumpaan dengan hantu-hantu tersebut menjadi hal yang lumrah dan masih sering terjadi. Begitulah gambaran betapa dekatnya dunia manusia dengan alam gaib pada waktu zaman dulu.

Maka dari itu, cerita yang akan dituturkan kali ini adalah kisah mengenai kejadian di Simpang Longang Pabok. Kisah tentang Simpang Longang Pabok ini selalu diceritakan turun-temurun oleh orang-orang tua pada zaman dulunya. Mereka menceritakan sebuah peristiwa masa lalu ketika orang-orang dari Nanga Jaba dan Longang Pabok membuat ayunan. Ayunan tersebut tidaklah biasa, melainkan sebuah ayunan yang dibuat dengan ukuran sangat panjang.

Orang-orang dari masa itu berayun menggunakan sebuah perahu panjang yang dimodifikasi menjadi ayunan. Perahu panjang itu dibuat secara khusus menggunakan bahan dasar kayu yang utuh dari sepohon batang adau. Mereka sengaja membuatnya sangat panjang-panjang agar bisa digunakan untuk berayun bersama. Di dalam perahu ayunan itulah, segala istri dari Koleng Peramak sering menghabiskan waktu.

Para istri itu berayun di dalam perahu sambil bergantian mengasuh dan menjaga anak agar tertidur lelap. Di antara mereka yang berayun itu, ada pula sosok yang memiliki kesaktian bisa langsung menyelam ke air. Namun, suasana perlahan berubah tegang ketika mereka mulai saling menyinggung perasaan satu sama lain. Sindiran demi sindiran dilontarkan secara sengaja kepada segala ipar dan sepupunya di atas ayunan tersebut.

Dalam sindirannya, mereka saling memuja-muja anak kandungnya sendiri di hadapan yang lainnya. Pada saat yang bersamaan, mereka juga melontarkan hinaan kepada anak orang lain melalui bermacam-macam timangnya. Nyanyian pengantar tidur yang bernada ejekan itu akhirnya memicu kemarahan mendalam di antara perempuan-perempuan tersebut. Pertengkaran mulut tak terhindarkan hingga akhirnya mereka langsung berkelahi dengan hebat di atas ayunan.

Di tengah keributan yang semakin memanas itu, bapak dari anak-anak tersebut baru saja datang. Kedatangan bapaknya pada awalnya bermaksud untuk ikut campur melihat pertikaian di antara mereka. Namun, bapak dari Lanceng dan bapak Peramak ini dikenal memiliki sifat yang agak kejam. Alih-alih meredakan suasana dengan tenang, kehadiran mereka justru memicu tindakan yang sangat drastis.

Jika kita membicarakan wujud ayah dari Peramang pada masa sekarang, sosoknya diyakini berubah menjadi ular kenawang. Ular kenawang ini bukanlah hewan biasa karena ia memiliki kesaktian yang membuatnya bisa terbang di udara. Jika ada yang meragukan siapa yang bisa menjadi saksi bahwa ular kenawang bisa terbang, aku berani bersaksi. Aku sendiri sudah pernah melihat dengan mataku bahwa hewan gaib itu benar-benar terbang.

Kembali pada kisah perkelahian tadi, sang ayah yang kejam akhirnya mengambil tindakan terhadap perahu ayunan tersebut. Perahu dari batang adau itu langsung dipotong-potong tanpa ampun menggunakan sebilah pisau yang tajam. Perahu panjang itu dipotong hingga putus menjadi tiga puluh bagian yang sama sekali terpisah. Setelah perahu itu putus oleh tebasan masing-masing, mereka semua memutuskan untuk memisahkan diri.

Akibat peristiwa pemotongan perahu itu, mereka semua akhirnya pindah menyebar ke berbagai arah. Ada yang pindah ke suatu titik, dan ada pula yang memilih untuk pindah menetap di tempat lainnya. Anak-anak dari keturunan orang Koleng Kana itu juga langsung hidup berpindah-pindah tempat. Kejadian ini menjadi titik awal mula berpisahnya kaum mereka dengan peradaban manusia.

Padahal, pada waktu sebelum berpindah tempat, mereka masih sangat sering bergaul erat dengan manusia atau mensia. Kedekatan itu terlihat jelas ketika masyarakat sedang melakukan tradisi nuba untuk mencari ikan. Jika manusia sedang nuba di aliran Sungai Payak maupun Sungai Kayan, orang-orang Koleng Kana selalu ikut serta. Mereka saling membaur bersama manusia menyusuri sungai tersebut tanpa ada perselisihan.

Setelah mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah, muncullah sebuah pertanda alam yang sangat aneh. Permukaan air sungai tiba-tiba berubah dan naik begitu cepat layaknya sedang terjadi air pasang. Keanehan ini sangat nyata karena air sungai itu mendadak pasang justru pada saat musim kemarau. Peristiwa alam ganjil inilah yang menjadi saksi ketika kami tengkar dan berpisah dengan orang Koleng Kana.

Sejak kejadian perpisahan tersebut, kami sama sekali tidak bisa bertemu dengan mereka lagi sampai sekarang. Jangankan untuk berinteraksi ke satu sama lain, melihat wujud mereka pun sudah tidak bisa didapatkan lagi. Padahal pada zaman dulunya, pergaulan kami sangat erat dan masih selalu saling meminta bantuan. Hilangnya interaksi ini memutus sama sekali ikatan antara manusia dengan penghuni gaib tersebut.

Bantuan dari Koleng Kana sangat terasa waktu ada kejadian genting yang mengancam keselamatan. Baik saat terjadi ancaman kayau terang maupun kayau gelap, leluhur kami selalu meminta bantuan kepada mereka. Orang-orang gaib itu selalu merespons dan kami masih bisa mendapat pertolongan untuk saling melindungi satu sama lain. Itulah kejadian bersejarah yang pernah terukir kuat di tanah air sepanjang aliran Sungai Kayan.

Sebagai bentuk kenangan atas hubungan masa lalu, sampai sekarang kami masih memanggil mereka melalui perantara lagu. Lagu-lagu daerah dengan bahasa khusus yang kami gunakan saat ini sebenarnya adalah lagu warisan dari Koleng Kana. Lirik dan nada tersebut mulai kami pakai semenjak masa pergaulan kami dengan mereka. Sebelumnya, para leluhur kami sama sekali tidak tahu mengenai jenis-jenis lagu yang harus dinyanyikan.

Orang-orang Koleng Gana sendirilah yang mengajarkan syarat-syarat tertentu jika kami ingin memanggil roh mereka. Mereka memberikan petunjuk yang jelas tentang bagaimana model dan cara kami memanggil dengan benar. Syarat dan petunjuk itulah yang kemudian kami jadikan sebagai alunan lagu Dayak Kebahan. Nyanyian ini menjadi bukti bagi siapa saja yang ingin melihat sisa peninggalan zaman Koleng Kana yang pernah ada.

Sayangnya, sekarang ini sudah memasuki zaman perubahan sehingga generasi anak baru tidak lagi peduli. Mereka benar-benar sudah tidak tahu lagi mengenai lagu daerah maupun lagu milik leluhurnya sendiri. Asal-usul lagu warisan Koleng Kana tersebut sudah memudar dan tidak dikenali sama sekali. Kisah hilangnya jejak lisan ini membuat cerita warisan leluhur itu pun cukup sampai di situ saja.