Mia Lomau dengan Mamang Payongk
Bagian 1
Di suatu daerah di Sintang, hiduplah sepasang suami istri yang dikenal oleh penduduk sekitar. Sang istri bernama Mia Lomau, sementara suaminya adalah Mamang Payongk. Mamang Payongk dikenal sebagai seorang pemburu yang handal, dengan keahlian utamanya menggunakan sumpit untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Pada zaman itu, konon masih banyak kekuatan sakti yang diyakini masyarakat. Salah satu keajaiban yang dipercaya adalah kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan "jerangau" dan "kencur" yang konon dibawa oleh kancil, ramuan ajaib yang menyimpan kekuatan kehidupan.
Suatu pagi, Mamang Payongk memutuskan untuk pergi menyumpit ke dalam hutan yang lebat. Ia berpamitan kepada istrinya, Mia Lomau, yang kemudian mengiyakan kepergian suaminya. Seperti biasa, Mamang Payongk membawa bekal makanan dan segala perlengkapan untuk menginap di hutan, bersiap untuk perjalanan berburu yang mungkin memakan waktu lama.
Sepanjang hari, Mamang Payongk sibuk menyusuri hutan, mencari mangsa dengan sumpitnya. Kadang ia menemukan pohon ara yang berbuah lebat, menjadi tempat berkumpulnya burung-burung yang bisa ia tangkap. Setelah seharian penuh berburu, ia berhasil mendapatkan banyak burung, menandakan hasil buruan yang melimpah.
Sementara itu, di rumah, Mia Lomau mulai merasakan lapar yang mendalam. Perutnya sudah keroncongan, dan ia merindukan kehadiran suaminya. Dengan suara yang lantang, ia memanggil suaminya ke dalam hutan, "Pulang, pulang Kakak Mamang Payong!" Ia memanggil berulang kali, tidak menyadari bahwa memanggil nama orang di dalam hutan adalah pantangan besar pada masa itu.
Mia Lomau terus memanggil suaminya dengan berbagai keluhan dan harapan. "Padi kering belum ditumbuk, labu kosong belum diisi," serunya. Ia juga menambahkan, "Burung besar belum dipotong, burung kecil belum dirasa," mengungkapkan kerinduannya akan hasil buruan suaminya dan makanan yang belum terhidang.
Panggilan Mia Lomau itu rupanya terdengar hingga ke telinga seekor hantu raksasa. Hantu itu bersemayam di Bukit Luet, sebuah lokasi yang terletak di antara Bukit Luet dan Bukit Kelam, di hulu Sungai Hantu. Konon, lokasi ini adalah tempat kayu pencongkel Bujang Beji dahulu, dan keberadaannya dapat dibuktikan hingga kini.
Hantu itu menyahut panggilan Mia Lomau dengan suara yang mengerikan, "Iya, iya," katanya. Lalu, hantu raksasa itu mengancam, "Nanti kamu rasakan Mia," dengan nada yang penuh dendam dan ancaman yang menakutkan.
Hantu itu melanjutkan ancamannya dengan gambaran yang mengerikan tentang apa yang akan dilakukannya. "Merobek seperti kepuak," ujarnya, "Dikupas seperti temoran." Hantu itu bersumpah akan menguliti Mia Lomau seperti "kepuak hutan" dan merobeknya seperti "temoran agung," sebuah ancaman yang sangat kejam.
Mia Lomau yang tidak menyadari bahaya yang mengintai, terus memanggil suaminya hingga tiga atau empat kali. Setelah panggilan terakhirnya, sesosok makhluk datang mendekat. Namun, yang datang bukanlah Mamang Payongk, melainkan hantu raksasa yang mengerikan itu.
Hantu itu memiliki penampilan yang sangat menakutkan, tubuhnya dipenuhi bulu lebat dan giginya sebesar beliung. Mia Lomau tidak sempat berbuat apa-apa, bahkan menutup pintu pun percuma. Dengan satu ketukan, hantu itu menerobos masuk dan langsung menerkamnya.
Hantu itu memakan Mia Lomau dengan lahap, mengunyahnya hingga tidak tersisa apa pun kecuali kulitnya yang digantung di atas plafon rumah. Jari-jari tangannya yang terlepas jatuh ke lantai juga dikunyah habis oleh hantu itu, meninggalkan Mia Lomau tanpa jejak kecuali kulitnya yang tergantung.
Jauh di dalam hutan, Mamang Payongk tiba-tiba merasakan firasat buruk yang mengganggu. Meskipun ia sudah berhasil memanggang burung-burung hasil buruannya hingga kering, hatinya tidak tenang. "Aduh," katanya, "Mengapa perasaanku tidak enak?"
Karena firasatnya yang tidak enak, Mamang Payongk memutuskan untuk segera berberes-beres, meskipun hari sudah malam. Setelah seharian penuh menyumpit, ia memutuskan untuk pulang, kembali ke rumahnya di tengah kegelapan hutan yang pekat.
Ketika tiba di dekat rumahnya, Mamang Payongk memanggil istrinya. Pada zaman dahulu, orang-orang tidak mengenakan celana, melainkan sabuk yang diikatkan di pinggang. "Oh Mia," panggilnya, "Antar sabukku!" Namun, tidak ada jawaban dari istrinya.
Mamang Payongk merasa heran dan khawatir, "Kenapa tidak dijawab?" Ia pun naik ke rumah dan terkejut melihat kulit istrinya sudah tergantung. "Aduh," katanya, "Sudah mati." Ia menyadari bahwa istrinya telah meninggal, lalu meletakkan semua barang bawaannya.
Mamang Payongk ini memiliki keistimewaan, ia masih bisa bergaul dan mengerti bahasa semua binatang. Pada zaman itu, manusia dan binatang masih bisa saling mengerti bahasa satu sama lain, sebuah kemampuan yang sangat langka.
Ia teringat akan kekuatan jerangau dan kencur pulang, ramuan ajaib yang didapatkan dari kancil. Kancil jantan menyimpan bahan semburan kencur di bawah dagunya, yang dapat digunakan untuk menghidupkan kembali yang telah mati.
Mamang Payongk mengambil kulit Mia yang tersisa, serta tulang-tulang yang jatuh ke tanah. Ia menumbuknya bersama beras hingga halus, lalu membentuknya menyerupai manusia. Setelah itu, ia menyelimutinya dengan kain kuning.
Kemudian, ia menyemburkan ramuan jerangau itu ke patung beras tersebut, mulai dari kaki hingga ke ubun-ubun. Ramuan jerangau ini, yang didapatkan dari kancil jantan, dipercaya memiliki kekuatan untuk mengembalikan nyawa.
Perlahan, beras yang bercampur daging itu mulai bergerak dan menyatu, hingga akhirnya Mia Lomau menguap, seolah baru terbangun dari tidur panjang. "Lama sekali aku tertidur," katanya, tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Mia Lomau kemudian meminta nasi. Karena manusia hidup dari tanah, Mamang Payongk menyiapkan tanah dan memasukkannya ke mulut Mia agar ia makan tanah. Ini adalah simbol awal kehidupan kembali.
Mia juga meminta air. Mamang Payongk memberinya air menggunakan bambu yang tidak memiliki ruas, yang disebut "bambu selamak." Air dituangkan langsung dari atas ke mulut Mia, karena bambu ini memungkinkan aliran air tanpa hambatan.
Selanjutnya, Mia meminta garam. Mamang Payongk memberinya sedikit pasir untuk dijadikan garam. Setelah itu, ia menyiapkan nasi, sayur, dan ikan biasa untuk Mia. "Aduh," kata Mia, "Kenapa rasanya begini?" Ia masih berpikir ia hanya baru bangun dari tidur yang sangat lama.
Setelah Mia Lomau benar-benar hidup kembali dan pulih, suaminya bertanya kepadanya dengan hati-hati, "Kenapa kamu meninggal? Siapa yang membunuhmu?" Ia ingin mengetahui kebenaran di balik kematian istrinya.
Mia Lomau pun teringat kembali kejadian mengerikan itu. Ia memberitahukan suaminya bahwa ia telah memanggil Mamang Payongk ke dalam hutan. Ternyata, yang menjawab panggilannya adalah hantu, bukan suaminya.
"Hantu yang memakanku," kata Mia Lomau kepada suaminya, menjelaskan pelaku di balik kematiannya. Mendengar pengakuan istrinya, Mamang Payongk pun merencanakan balas dendam. "Nanti," kata suaminya, "Aku akan menyumpitnya lagi."
Mamang Payongk segera menyiapkan sumpitnya, lengkap dengan keneng (racun) dan damak (anak sumpit). Ia kemudian memerintahkan Mia, "Kamu panggil lagi," agar hantu itu kembali datang dan dapat ia bunuh.
Mia Lomau pun memanggil hantu itu kembali. Dari teluk hantu, terdengar suara hantu yang terkejut, "Ya ampun, masih hidup kamu Mia?" Hantu itu tidak menyangka Mia bisa hidup kembali, dan kemudian ia pun berangkat lagi.
"Nanti kamu rasakan ini Mia!" seru hantu itu, masih dengan ancaman serupa. Mia Lomau tetap memanggil suaminya dengan nada seperti sebelumnya, "Pulang, pulang Mamang Payongk, labu kosong belum diisi, padi kering belum ditumbuk."
Mia Lomau juga mengulangi panggilan khasnya, memberitahukan gelar-gelar yang biasa ia sebutkan. "Semua burung besar belum dipotong," katanya, "Burung kecil belum dirapikan," berharap hantu itu akan datang.
Setelah Mia memanggil dua atau tiga kali, hantu itu akhirnya datang. "Nah, itu dia," kata Mamang Payongk. Ia pun langsung menyumpit hantu itu berulang kali. Hantu itu menepis sumpit-sumpit itu, seolah tak mempan.
Mamang Payongk terus menyumpit hantu itu, menancapkan damak ke sisi kiri, lalu ke kanan, namun hantu itu masih berdiri kokoh. Akhirnya, ia menyumpit tepat ke arah jantungnya. Seketika, hantu itu terjatuh tak berdaya.
Mia Lomau, yang menyaksikan suaminya membunuh hantu itu, keluar dari rumah dengan amarah yang meluap. Ia mencincang hantu itu sampai halus, hingga hampir menyatu dengan tanah, sebagai bentuk balas dendam atas apa yang telah hantu itu lakukan padanya.
Kisah ini menjadi asal-usul nama Sungai Kebiau, Teluk Hantu, dan Sungai Hantu. Nama-nama ini abadi untuk mengenang hantu raksasa yang memakan Mia Lomau, dan bagaimana ia dihidupkan kembali serta dendam suaminya yang berujung pada kematian sang hantu.