Mia Tuok dengan Mamang Bulan
Mia Tuok dengan Mamang Bulan
Aku akan menceritakan sebuah kisah yang telah dituturkan oleh orang-orang tua pada zaman dahulu kala. Pada masa tersebut, terdapat sebuah sebutan khusus untuk membedakan panggilan antara perempuan dan laki-laki. Jika seseorang itu adalah perempuan, maka ia akan dipanggil dengan sebutan Mia. Sementara itu, untuk memanggil seorang laki-laki, masyarakat pada zaman tersebut menggunakan nama Mamang.
Sesuai dengan panggilan tersebut, hiduplah seorang laki-laki pada masa lalu yang dikenal dengan nama Mamang Bulan. Keberadaan Mamang Bulan ini sudah ada sejak sangat lama, mungkin terhitung sudah berapa abad atau sekian tahun ke atas. Di sisi lain, ada pula sosok perempuan yang wujudnya menyerupai seekor burung dan memiliki nama Mia Tuok. Kedua makhluk inilah yang kelak akan menjadi tokoh utama dalam jalinan cerita orang tua zaman dahulu ini.
Pada awalnya, Mamang Bulan dan Mia Tuok menjalin hubungan asmara layaknya dua orang yang sedang berpacaran. Hubungan mereka berdua terus berlanjut hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melangsungkan sebuah ikatan pernikahan. Sosok laki-laki itu bukan sekadar memiliki nama bulan, melainkan dirinya memang merupakan perwujudan asli dari bulan tersebut. Meskipun ia adalah bulan sungguhan, orang-orang mungkin hanya mengenalnya dengan sebutan nama Mamang Bulan saja.
Sejak melewati masa sebagai sepasang kekasih hingga akhirnya menikah, Mia Tuok resmi menjadi istri dari Mamang Bulan. Sayangnya, meskipun mereka telah hidup bersama-sama, sama sekali tidak terdengar kabar bahwa pasangan ini memiliki seorang anak. Pasangan suami istri ini sejatinya telah melewati waktu yang sangat lama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Mamang Bulan dan Mia Tuok telah tinggal bersama-sama selama bertahun-tahun di dunia ini.
Suatu ketika, Mamang Bulan memiliki keinginan untuk membuat sebuah perahu bagi dirinya sendiri. Ia mulai sibuk mencari berbagai bahan baku yang dibutuhkan untuk mewujudkan pembuatan perahu tersebut. Semua proses membelah kayu dan menebang pohon telah diselesaikannya, namun pekerjaan yang dimulai sehari ini tak kunjung usai. Bahkan setelah berbulan-bulan lamanya ia bekerja, perahu milik Mamang Bulan itu tidak mau jadi juga.
Mamang Bulan sejatinya memang merupakan sosok yang bisa keluar dan pulang kembali ke bulan di atas langit sana. Entah karena pengaruh kuasa apa, ia memiliki kesaktian untuk bisa turun dan naik ke bulan sesuka hatinya. Sebelum mulai bekerja, Mamang Bulan memberikan sebuah peringatan yang sangat tegas kepada istrinya, Mia Tuok. Ia melarang keras istrinya untuk melihat ke arah perahu yang sedang ia buat sampai pekerjaan itu benar-benar sudah jadi.
Mendengar larangan dari suaminya tersebut, Mia Tuok hanya bisa mengiyakan dan berkata bahwa ia sanggup mematuhinya. Namun di dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya apa sebabnya Mamang Bulan melarang dirinya untuk melihat ke arah perahu itu. Tanpa sepengetahuan Mia Tuok, ternyata Mamang Bulan memiliki kebiasaan aneh saat siang hari tiba. Laki-laki itu selalu menghabiskan waktu siangnya dengan tidur di dalam perahu tersebut.
Saat tertidur di siang hari, tubuh Mamang Bulan memancarkan cahaya yang bersinar sangat terang. Cahaya besar yang berasal dari kekuatan bulan itu memancar hingga memenuhi seluruh bagian dalam perahu. Mamang Bulan memang hanya tertidur di siang hari, sementara pada malam harinya ia kembali sibuk membuat perahu tersebut. Pekerjaan membangun perahu itu secara khusus hanya dilakukan olehnya ketika malam telah tiba.
Menghadapi situasi yang penuh misteri itu, sang istri yang bernama Mia Tuok akhirnya merasa sangat tidak sabar lagi. Setiap hari berlalu, niatnya untuk mengintip pekerjaan suaminya itu semakin kuat tak terbendung. Akhirnya, rasa penasaran itu mengalahkan kepatuhannya, dan ia pun benar-benar pergi untuk mengintip perbuatan suaminya. Ia datang secara diam-diam ke tempat tersebut untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya ada di dalam perahu itu.
Saat diintipnya, Mia Tuok terkejut melihat wujud suaminya yang sudah memenuhi perahu dengan cahaya yang bersinar bagaikan bulan. Ia seketika merasa ketakutan melihat sinar bulan yang memancar begitu terang dan memenuhi perahu tersebut. Dalam rasa takutnya, ia bergumam dan bertanya-tanya apa gerangan nama dari sesuatu yang bersinar menyilaukan seperti itu. Segala sinar dari sang bulan benar-benar terpancar nyata di hadapan mata Mia Tuok saat itu.
Menyadari bahwa dirinya sedang dilihat, bulan itu akhirnya merasa sangat malu karena rahasianya telah terbongkar. Dalam keadaan malu, Mamang Bulan menegur istrinya yang nekat melihat padahal sudah dilarang dengan keras sebelumnya. Dengan perasaan kecewa, ia segera naik ke rumah dan mengambil semua barang-barang miliknya. Mamang Bulan menyesalkan sikap istrinya yang sama sekali tidak mau menuruti perkataannya.
Mamang Bulan kemudian mengatakan bahwa ikatan pernikahan mereka yang baru sebentar ini harus segera berakhir. Ia menyadarkan Mia Tuok bahwa dirinya adalah orang dari atas, sedangkan burung Tuok itu adalah orang dari bawah. Menurut Mamang Bulan, mereka berdua memang bukanlah sebuah jodoh dan hanya kebetulan saja bisa bertemu. Setelah menyampaikan kenyataan pahit itu, ia pun menyatakan niatnya untuk segera pulang.
Mia Tuok berusaha menolak kepergian suaminya, namun ia hanya bisa menahan langkahnya dari bawah dan berada di dekatnya saja. Burung Tuok itu sama sekali tidak mampu menjangkau sosok Mamang Bulan yang terus naik semakin tinggi. Meskipun Mia Tuok tidak mampu menahannya, Mamang Bulan tetap terbang terus ke atas meninggalkan dirinya. Sosok bulan itu terus bergerak naik dan naik hingga kembali ke tempat asalnya di langit.
Akibat dari perpisahan yang menyedihkan itu, Mia Tuok hanya bisa menangis sampai sekarang ini. Apabila ia melihat bulan bersinar di langit, tangisan burung Tuok itu pasti akan segera terdengar. Ia akan terus bersuara merintih menyebut "tuok, tuok" sebagai bentuk kesedihannya dalam mengenang sosok bulan tersebut. Bunyi tangisan yang berbunyi tuok itulah yang pada akhirnya menjadi asal-usul dari namanya.
Tangisan yang berbunyi tuok itu tidak lain adalah wujud kerinduannya yang sangat mendalam saat mengenang sang bulan. Memang terdengar sangat aneh, tetapi cerita tentang burung Tuok yang berpacaran dengan bulan ini benar-benar ada. Itulah akhir dari kisah mengenai Mamang Bulan yang pernah berpacaran dan menikah dengan burung Tuok. Hingga detik ini, burung Tuok itu masih terus mengenang kepergian suaminya dengan tangisannya yang khas.