Penyelongkai dibunoh julong di sungai Sumpet
Bagian 1
Di sebuah wilayah yang kaya akan cerita rakyat, hiduplah kisah tentang keberanian dan balas dendam di tepian Sungai Peranai. Dulu, sungai ini dikenal sebagai Sungai Peranai, sementara di bagian hulunya terdapat Sungai Suli. Namun, setelah sebuah peristiwa penting terjadi, kedua sungai ini kemudian dikenal bergandengan, dengan salah satunya berubah nama menjadi Sungai Sumpit.
Tak jauh dari sana, di sebuah ladang di Nanga Masau, tinggallah sepasang suami istri dengan putri mereka yang bernama Lita. Kecantikan Lita dikenal luas di kalangan masyarakat hulu, membuat banyak pemuda datang untuk meminangnya. Namun, Lita menolak setiap lamaran yang datang kepadanya, sebab hatinya menyimpan dendam yang belum terbalaskan atas tragedi yang menimpa kedua orang tuanya.
Beberapa waktu sebelumnya, saat Lita masih muda, kedua orang tuanya menjadi korban keganasan seekor kuntilanak di ladang mereka. Kuntilanak itu memakan habis tubuh ayah dan ibunya, meninggalkan hanya kulit dan tulang belulang yang kemudian dijemur di loteng rumah. Warga menemukan sisa-sisa tragis itu, lalu membawanya pulang untuk dibakar dan diurus sebagaimana mestinya.
Setelah Lita beranjak dewasa, para pemuda kembali berdatangan untuk melamarnya, tanpa memandang rupa atau status. Namun, Lita tetap pada pendiriannya, ia tidak mencari pria tampan, kaya, atau berkedudukan tinggi. Syaratnya hanya satu, siapa pun yang ingin menikahinya harus terlebih dahulu membalaskan dendam atas kematian ayah dan ibunya dengan membunuh setidaknya satu kuntilanak.
Kuntilanak yang bertanggung jawab atas kematian orang tua Lita diketahui bersemayam di dalam Sungai Peranai, di lokasi yang bergandengan dengan Sungai Sumpit. Kedua sungai ini bermuara pada satu tujuan, yaitu Bukit Kering. Kabar mengenai sayembara Lita ini pun menyebar luas dari hilir hingga ke hulu, mencari siapa gerangan yang berani menghadapi makhluk gaib tersebut.
Cerita tentang sayembara Lita akhirnya sampai ke telinga seorang pemuda bernama Julong. Julong adalah seorang pria dengan tubuh tinggi dan kulitnya yang berpanu, namun ia dikenal sebagai ahli sumpit yang disegani. Selain keahliannya dalam menyumpit, Julong juga memiliki ilmu khusus yang membuatnya semakin ditakuti.
Julong, yang mendengar cerita itu, menyatakan kesediaannya untuk mencoba membunuh kuntilanak tersebut. Ia bersedia memenuhi syarat Lita, dengan harapan dapat menikahi gadis itu. Namun, sebuah peringatan keras diberikan kepadanya, bahwa jika ia mati dalam pertempuran melawan hantu, tidak akan ada ganti rugi yang diberikan kepada keluarganya.
Sebelum berangkat, Julong melakukan serangkaian persiapan dan ritual. Ia meminta orang-orang merendam beras ketan yang dibawa dari Nanga Masau, lalu menuangkannya ke atas tiga lesung yang ditelentangkan. Ritual ini adalah untuk menguji apakah ia akan terluka atau tidak dapat melihat kuntilanak. Julong berhasil melewati ritual itu tanpa cedera dan tanpa melihat penampakan, menandakan kesiapannya.
Berbekal sumpit dan pisau, serta ilmu yang ia miliki, Julong pun memulai perjalanannya menuju Sopan Pelangen. Tempat ini adalah sarang kuntilanak yang kemudian berganti nama menjadi Sopan Sumpit, sebagai pengingat akan peristiwa pembunuhan kuntilanak dengan sumpit. Dengan tekad membara, Julong siap menghadapi makhluk gaib itu.
Setibanya di Sopan Pelangen, Julong melihat tujuh kuntilanak berdiam diri di atas akar-akar pohon besar, berayun-ayun di antara dahan kayu. Tiba-tiba, suara "hohoi" terdengar, dan salah satu kuntilanak berseru, "Julong mendatangi kita!" Mereka seolah tahu kedatangan Julong, yang berasal dari Emponyang, tempat asalnya.
Tanpa membuang waktu, Julong segera beraksi begitu salah satu kuntilanak melompat. Ia membidik kuntilanak yang paling bungsu dengan sumpitnya. Tepat mengenai sasaran, kuntilanak itu jatuh ke tanah tak berdaya. Melihat rekan mereka tumbang, enam kuntilanak lainnya langsung melompat dan menghilang, seolah terkejut dan ketakutan.
Julong kemudian memenggal kepala kuntilanak yang telah ia sumpit itu. Ia membawa kepala tersebut dengan menjinjing rambutnya yang panjang menjuntai hingga ke kaki. Selain itu, ia juga menemukan sebuah kuku kelingking kuntilanak yang keras seperti sisik trenggiling. Setibanya di rumah, warga segera mengadakan pesta besar yang disebut Gawai "Mutus Buleng," sebagai tanda balas dendam atas kematian orang tua Lita telah terpenuhi.
Pada malam yang sama, Gawai kedua pun diselenggarakan, kali ini untuk merayakan pernikahan Julong dan Lita. Setelah kejadian itu, jumlah kuntilanak di daerah tersebut berkurang satu, menyisakan enam ekor saja. Rumah asal kuntilanak itu sendiri diketahui berada di Pancung Alat Hulu, dan tempat perburuan mereka yang biasa di Sungai Buluh Sopah Sumpit, di mana mereka sering menangkap anak rusa.
Kematian satu kuntilanak di tangan Julong membuat sisa kuntilanak lainnya gentar. Mereka tidak lagi berani mengganggu manusia dan kembali ke rumah mereka di hulu. Julong dan Lita pun hidup berbahagia sebagai suami istri, memulai sebuah keturunan yang jejaknya kini tidak lagi diketahui. Demikianlah akhir dari kisah Julong, sang pahlawan pembasmi kuntilanak.