Puyang Gana
Puyang Gana
Dahulu kala, hiduplah seorang tokoh yang dikenal dengan nama Puyang Gana. Ia memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan tokoh lain, yakni menjadi besan dari Mamang Kompah. Kisah mengenai Puyang Gana ini sangat unik karena ia dikaruniai keturunan yang jumlahnya sangat banyak, yaitu tiga puluh tiga orang anak.
Anak-anak dari Puyang Gana inilah yang kemudian menjadi asal-usul dari segala jenis ular yang ada di dunia. Oleh karena itu, pada masa sekarang kita mungkin sudah tidak bisa lagi mengenali mereka secara langsung sebagai manusia. Keturunan Puyang Gana ini selalu hidup berdampingan dengan pasangan mereka masing-masing.
Dalam kehidupan para ular keturunan Puyang Gana, mereka tidak pernah hidup sendirian atau dalam jumlah ganjil. Setiap ada satu ular, pasti ada pasangannya yang menyertai dengan wujud yang hampir serupa satu sama lain. Keberadaan pasangan yang serasi ini menjadi ciri khas yang melekat pada seluruh garis keturunan puyang tersebut.
Salah satu keturunan Puyang Gana yang dikenal dalam sejarah adalah sosok bernama Tengkoleng Kumang. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Peramang Nangai, dan keduanya memiliki rupa yang sangat mirip atau kembar. Mereka merupakan representasi nyata dari anak-anak Puyang Gana yang memiliki wujud fisik yang serupa.
Penyebab utama mengapa manusia saat ini sudah tidak bisa lagi bergaul atau bertemu dengan mereka di ladang adalah karena wujud mereka. Keturunan Puyang Gana telah sepenuhnya berwujud ular, sehingga interaksi sosial seperti masa lalu tidak mungkin lagi terjadi. Perubahan wujud inilah yang membatasi perjumpaan fisik antara manusia dengan kelompok mereka.
Meskipun jejak bangunan atau tempat mereka berseluncur sudah tidak diketahui lagi arahnya, keberadaan Puyang Gana tetap dianggap nyata. Ada bukti-bukti fisik yang tertinggal di alam, terutama di sepanjang aliran sungai yang menjadi saksi bisu keberadaan mereka. Setiap jengkal air sungai dipercaya menyimpan bukti sejarah mengenai perjalanan hidup puyang tersebut.
Jika seseorang melakukan perjalanan mudik menyusuri jalur Sungai Kayan, mereka mungkin akan menemukan sepasang keturunan yang masih hidup. Namun, kelompok ini tidak memiliki banyak teman atau saudara dari kalangan manusia biasa. Mereka hidup mengasingkan diri dan hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan pasti mereka di jalur sungai tersebut.
Selain Tengkoleng Kumang, ada pula sosok bernama Sengkumang yang juga termasuk dalam garis keturunan Puyang Gana. Sengkumang memiliki tempat-tempat khusus yang masih bisa ditengarai hingga saat ini oleh masyarakat setempat. Nama Sengkumang ini sangat melekat pada beberapa lokasi yang dianggap keramat atau bersejarah di wilayah tersebut.
Salah satu bukti nyata keberadaan Sengkumang adalah sebuah batu besar yang dahulu digunakan sebagai tempatnya memancing. Selain itu, terdapat pula tempat bernama Ombak Tampon yang dipercaya sebagai lokasi Sengkumang memasang bubu untuk mencari ikan. Sengkumang diceritakan hanya seorang diri, namun ia memiliki anak-anak yang juga meneruskan namanya.
Di sisi lain, tempat yang berkaitan dengan Koleng Kumang juga dikenal sebagai lokasi penyembelihan atau tempat bersejarah lainnya. Cerita mengenai anak-cucu Puyang Gana ini memang sangat luas dan mencakup banyak tempat di alam liar. Walaupun detail-detail kecilnya mungkin mulai terlupakan, inti dari silsilah keturunan ini tetap terjaga secara lisan.
Banyak orang yang mungkin tidak terlalu memercayai atau menghafal seluruh detail cerita Koleng Kana dan keturunan Puyang Gana ini. Namun, kenyataannya sisa-sisa peninggalan mereka tetap ada dan tidak bisa diabaikan begitu saja oleh zaman. Perkembangan dunia saat ini memang membuat arah keberadaan mereka semakin samar dan sulit untuk dilacak secara pasti.
Pada zaman dahulu, tepatnya di masa anak Aji Bata, keturunan Puyang Gana masih bisa berladang bersama-sama dengan manusia. Mereka bisa saling berkunjung dan melakukan aktivitas sosial layaknya sesama manusia pada umumnya sebelum perubahan wujud itu terjadi sepenuhnya. Masa-masa kebersamaan tersebut kini hanya menjadi kenangan yang membuktikan bahwa mereka benar-benar pernah ada.
Saat ini, keberadaan mereka berada di antara ada dan tiada karena sulitnya menemukan jejak fisik yang langsung. Namun, bagi masyarakat yang memahami sejarahnya, bukti bahwa mereka adalah bangsa ular berjumlah tiga puluh tiga tetap menjadi pegangan cerita. Begitulah akhir dari riwayat Puyang Gana yang jejaknya kini menyatu dengan alam dan seluruh jenis binatang ular lainnya.