Entogong Jali Dikumpulkan oleh Tino

Ranga Bengeh

Ranga Bengeh

Ranga Bengeh

Berikut adalah kisah Ranga Bangeh, sebuah cerita rakyat yang mengisahkan perburuan dan pertarungan di sepanjang Sungai Kayan. Kisah ini bermula dari zaman dahulu, ketika terjadi pengejaran sengit yang melibatkan berbagai kelompok dan kekuatan supranatural.

Pada masa itu, jalur Sungai Kayan menjadi saksi bisu pelarian sekelompok penyamun. Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan kejahatan dan kini dikejar oleh pasukan yang dipimpin oleh Ranga Bangeh. Pelarian ini membawa mereka jauh dari Pantai Melawi, menyusuri hutan dan sungai yang tak terjamah.

Dalam perjalanan panjang tersebut, bekal para penyamun mulai menipis dan akhirnya habis sama sekali. Mereka kehabisan makanan dan berada dalam kondisi yang sangat genting. Di tengah keputusasaan, mereka mencari siapa saja yang bersedia membantu menyediakan makanan dan melindungi mereka dari para pengejar yang mengancam nyawa.

Para penyamun ini sebenarnya adalah sekelompok orang yang sebelumnya telah membunuh dua orang pedagang. Akibat perbuatan keji tersebut, mereka menjadi buronan dan harus terus berlari menyelamatkan diri. Pengejaran ini dipimpin oleh Ranga Bangeh, seorang tokoh yang bertekad untuk menemukan dan menghukum para pembunuh pedagang itu.

Ranga Bangeh memimpin pasukannya untuk mencari orang-orang yang telah membunuh pedagang tersebut. Perjalanan para penyamun yang dikejar ini sangat jauh, dimulai dari Pantai Melawi, lalu mereka berlari dan berumah sementara di Nanga Belawai. Setelah itu, mereka melanjutkan pelarian ke Mentatai.

Dari Mentatai, pelarian mereka berlanjut melalui jalur darat yang berat. Mereka terus bergerak hingga mencapai daerah Sedaga, kemudian meneruskan perjalanan sampai ke Tanak Goneh. Di setiap persinggahan, ketakutan akan pengejaran selalu menghantui mereka.

Ketika tiba di Tanak Goneh, para penyamun itu kembali memohon pertolongan. Mereka bertanya siapa di antara penduduk setempat yang berani dan mampu menyelamatkan mereka dari serangan pimpinan bala Bajok Entaram yang datang dari hilir. Mereka sangat membutuhkan perlindungan dan tempat bersembunyi.

Pada zaman itu, di desa Tanak Goneh, hiduplah seorang yang bernama Sanga. Konon, di masa itu masih ada sosok Koleng Gana yang bisa ditemui, menunjukkan betapa kuno dan sakralnya zaman itu. Sanga adalah salah satu manusia yang hidup di sana dan memiliki keberanian luar biasa.

Mendengar permohonan tersebut, Sanga pun menyatakan kesediaannya untuk membantu. Ia berkata bahwa ia akan menolong mereka, asalkan mereka mau mengikuti segala perkataannya. Sanga kemudian mengeluarkan padi dari lumbungnya untuk dimakan oleh ketujuh bersaudara penyamun itu, memberikan mereka kekuatan untuk bertahan.

Sementara itu, pasukan Ranga Bangeh yang disebut bala Bajok Entaram terus memburu mereka dengan gigih. Mereka melacak keberadaan para penyamun yang berasal dari Mentatai itu dengan cara yang unik. Para pengejar memukul-mukul daun telinga mereka sendiri hingga mengeluarkan bunyi, lalu melempar piring sebagai penanda jejak.

Perburuan itu membawa pasukan Ranga Bangeh mudik menyusuri Sungai Kayan hingga akhirnya tiba di Nanga Tebidah. Di sana, mereka menemukan sebuah "adau" atau perangkap mistis yang terletak di Bukit Tutup dalam Tebidah. "Adau" ini merupakan bagian dari kekuatan yang mereka miliki.

Dengan kekuatan Bala Bajok Entaram, pimpinan Ranga Bangeh, mereka mengambil selembar daun kayu dan sebatang ranting. Daun dan ranting itu dimasukkan ke dalam "adau tutup" yang seketika berubah menjadi batu. Hal ini menunjukkan kekuatan magis yang mereka miliki.

Pasukan Ranga Bangeh kemudian melanjutkan perjalanannya, membawa kemarahan dari kejadian tersebut. Mereka menyerang dan membunuh orang-orang Mempabong dan Nanga Tebidah, dibantu oleh Koleng Peramang. Peristiwa tragis ini menghasilkan sebuah fenomena yang dikenal sebagai Batu Bangkai di Sungai Tebidah.

Batu Bangkai adalah tempat di mana mayat-mayat dari para korban bala Bajok Entaram berubah menjadi batu. Pada zaman itu, dipercaya bahwa manusia yang meninggal dengan kesaktian tidak akan membusuk, melainkan akan mengeras menjadi batu. Ini adalah bukti bahwa zaman itu adalah zaman para dewa yang masih dekat dengan manusia.

Setelah itu, pengejaran berlanjut ke Empakan, tempat di mana kelompok yang dibantu Sanga, yang dikenal sebagai Mega Janur, bersembunyi. Mereka adalah kelompok yang telah membunuh orang dan dikejar oleh pasukan Bajok Entaram. Di Empakan, mereka bertemu dengan Dayang Ngiang, istri dari Mamang Semenok.

Dayang Ngiang, yang memiliki kesaktian luar biasa, bertanya kepada para pengejar mengapa mereka datang ke tempat itu. Ketika mereka tidak mau mendengarkan larangannya, Dayang Ngiang menunjukkan kekuatannya. Ia mengatakan bahwa tidak ada sungai lain untuk mereka mudik selain Sungai Goneh.

Dengan kekuatan saktinya, Dayang Ngiang mengencingi Sungai Kayan. Air kencingnya begitu banyak dan kuat hingga membelah sungai dari satu sisi ke sisi lain, menciptakan jalur baru yang mengarah ke Sungai Goneh. Ini memaksa para pengejar untuk mengikuti jalur yang ditunjuknya.

Mengikuti petunjuk Dayang Ngiang, para Mega Janur dan Sanga mudik menyusuri Sungai Goneh. Atas saran Sanga, mereka mendirikan rumah perlindungan di puncak Bukit Bangkar Begorang. Di sana, mereka mempersiapkan sebuah jebakan mematikan.

Di bukit itu, mereka memasang batang kayu besar yang diikat dan siap digulingkan dari atas. Selain itu, mereka juga memasang meriam bergambar ikan yang telah diisi peluru dari lemiang dan rantai. Semua persiapan ini dilakukan untuk menyambut kedatangan pasukan Ranga Bangeh.

Tak lama kemudian, Ranga Bangeh, pimpinan bala Bajok Entaram, tiba di kaki bukit. Ia hendak mengejar ke rumah yang telah disiapkan di puncak. Namun, saat Ranga Bangeh dan pasukannya mulai naik, batang kayu besar yang dipasang Sanga dilepaskan.

Batang kayu itu menimpa Ranga Bangeh dan pasukannya, membuat mereka limbung dan terluka parah. Meskipun sebagian dari mereka tidak langsung mati, Ranga Bangeh, pimpinan bala Bajok Entaram, tidak dapat mengelak dari nasibnya.

Meriam bergambar ikan yang telah disiapkan pun ditembakkan. Peluru lemiang dan rantai menembus tubuh Ranga Bangeh, membuatnya tewas seketika. Setelah itu, tubuhnya dilindas lagi dengan batang kayu hingga kepalanya kempes dan hancur.

Akhirnya, tubuh Ranga Bangeh yang hancur itu berubah menjadi batu di Bukit Begorang. Batu itu kini dikenal sebagai Batu Ranga Bangeh. Karena tubuhnya telah hancur dan menjadi batu, sangat sulit untuk membawanya pergi.

Pasukan Ranga Bangeh yang tersisa melihat kejadian itu dan segera berlari kembali ke hilir, pulang dengan kekalahan. Mayat Ranga Bangeh yang telah menjadi batu itu dikatakan memiliki keunikan. Masyarakat percaya bahwa batu itu sangat baik untuk mengasah pisau.

Seluruh rencana penangkapan dan pembunuhan Ranga Bangeh ini adalah ide Sanga. Sanga adalah orang yang berani menerima tantangan dan melindungi kelompok Mega Janur, yang awalnya dianggap penyamun. Ia telah berhasil mengalahkan pimpinan besar bala Bajok Entaram.

Kelompok yang ditolong Sanga ini adalah tujuh bersaudara Mega Janur, yang dikenal karena kemampuan mereka menyanyikan lagu janur. Keturunan mereka masih ada dan tinggal di Tanak Goneh hingga kini. Setelah merasa aman dari ancaman, mereka pun pindah ke Pelaik Keruap.

Sanga adalah pahlawan yang telah membunuh Ranga Bangeh dan menyelamatkan Mega Janur dari pasukan pengejar. Namun, tidak semua saudara Sanga memiliki nasib yang sama. Salah satu saudaranya yang paling penakut, menggali tanah dan bersembunyi.

Saudara Sanga yang penakut itu akhirnya menikah dengan seekor macan bernama Janau, dan konon setiap hari tubuhnya berubah menjadi kuning dan berbulu seperti macan. Sementara itu, saudara Sanga yang lain meninggal karena menahan sakit perut. Hanya Sanga yang memiliki keturunan hingga sekarang, dan kisahnya tetap dikenang sebagai bagian dari legenda di tempat tersebut.