Riwayat Hidup Pantang Mali
Riwayat Hidup Pantang Mali
Kami, suku Dayak Kebahan, telah diajarkan berbagai cara hidup dan pergaulan sejak zaman dahulu kala. Ajaran ini sudah ada jauh sebelum bangsa Belanda datang dan menguasai tanah leluhur kami. Inti dari ajaran tersebut adalah mengenai syarat-syarat hidup serta pantangannya yang ketat.
Pantangan ini telah diwariskan dari zaman ke zaman, terutama pada masa ketika kekuatan-kekuatan spiritual masih sangat berkuasa. Kami mengenal sosok yang berkuasa sebagai Dewa Tuhan, atau yang kami sebut juga sebagai Tuhan Ala. Tuhan Ala ini tidaklah jauh dari kehidupan manusia, melainkan sangat dekat dan hadir dalam setiap aspek alam semesta.
Syarat-syarat hidup ini mencakup apa yang kami sebut sebagai "koleng gana", yaitu pantangan-pantangan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Pelanggaran terhadap koleng gana dapat membawa konsekuensi yang sangat serius bagi kehidupan kami, sesuai dengan pesan-pesan yang diturunkan.
Kami percaya bahwa segala penghuni pohon, penghuni bukit, dan penghuni batu, yang telah hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun, memiliki cara tersendiri untuk berinteraksi dengan kita. Ketika kami bertemu dengan mereka, kami menyembah mereka, dan mereka akan datang membantu kami dalam berbagai hal.
Ada cara-cara khusus untuk memanggil mereka agar datang menolong, termasuk melalui pemujaan terhadap burung-burung tertentu yang dianggap keramat. Kepercayaan kuno ini mengajarkan kami bahwa Tuhan Ala memiliki banyak wujud dan tugas di dunia ini, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kami.
Tugas-tugas Tuhan Ala yang kami ketahui sungguhlah beragam, meliputi penciptaan dan pengaturan alam semesta. Meskipun terkadang orang menyebutnya Tuhan Allah, kami meyakini bahwa Tuhan Ala inilah yang membentuk segala isi bukit, isi kayu, dan isi batu, serta yang memberi angin dan segala kehidupan di bumi. Dialah yang mengatur segala yang ada.
Pada zaman dahulu, banyak sekali pantangan yang telah kami rasakan dampaknya jika dilanggar, yang kami sebut 'pamali'. Pamali ini tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab pelanggarannya dapat memiliki arti yang sangat fatal, bahkan ada yang menyebabkan kematian atau kegilaan. Inilah pesan-pesan yang diwariskan.
Inilah pantang-pantang hidup kami, menurut pesan-pesan dari manusia awal yang hidup di bumi, yang merupakan riwayat hidup suku Kebahan kami. Meskipun kami tidak lagi mengetahui persis di mana tempat mereka yang telah kembali ke kayangan atau menyatu dengan tanah, pesan-pesan mereka tetap ada dan nyata dalam kehidupan kami.
Salah satu contoh nyata adalah larangan bergurau atau mengolok-olok binatang, yang kami sebut 'bunatang'. Jika larangan ini dilanggar, petir akan menyambar dengan dahsyat, dan kami telah melihat beberapa saudara kami meninggal karena kejadian tersebut, bahkan sampai saudara terakhir kami sendiri. Kejadian ini sungguh nyata dan meninggalkan bekas.
Pernah ada yang mengadu belalang dan burung sampai mati, seperti *kempenau* dan *kempulok*, dan kejadian ini sungguh terlihat nyata dampaknya. Ada pula yang memotong kaki katak, atau membuat bentuk manusia dari kayu, yang bagi anak-anak kami, jika dilakukan, pasti akan menunjukkan model nyata dari kuasa yang terkandung di dalamnya.
Pada masa itu, pesan-pesan Koleng Gana sangat ditekankan dalam bahasa kami, dan kami hidup berdampingan dengan alam serta segala aturannya. Kami juga mengingat masa ketika kami masih makan nasi dari padi kecil, sebuah perubahan yang terjadi setelah ratusan tahun kami makan padi besar dengan kulitnya.
Meskipun kami masih memiliki kulit padi besar, kami tidak lagi tahu di mana tempat menanam padi yang bakah tersebut. Perubahan dari padi besar ke padi kecil ini terjadi pada zaman *Laban Sanak*, seorang sosok yang membuat padi kecil dari roh yang telah mati.
Demikian pula dengan praktik membuat 'kejohan', yaitu patung manusia dari kayu belian yang disuruh berjejer, seperti anak dengan ibunya. Kami pernah mencoba melakukannya, dan hampir disambar petir jika saja tidak ada orang yang tahu dan menghentikannya, yang berarti ada anak yang disuruh dari belakang dan anak digendong ibunya.
Meskipun cuaca saat itu bagus dan tidak hujan, kejadian itu menjadi bukti nyata dari pamali yang kami pegang teguh. Inilah riwayat hidup kami, suku Dayak Kebahan, yang mungkin memiliki banyak kesamaan dengan suku Dayak lainnya dalam menjaga tradisi dan kepercayaan leluhur.