Sungai Kayan
Sungai Kayan
Berikut adalah kisah panjang yang terangkai dari cerita rakyat Sungai Kayan, sebuah narasi yang mengalir mengikuti alur sungai dan jejak peristiwa masa lalu.
Kisah tentang Sungai Kayan ini bermula dari Nanga Kayan, sebuah titik awal di mana aliran sungai masih tampak sempit. Namun, seiring perjalanannya, Sungai Kayan ini diketahui memiliki banyak anak sungai atau cabang yang melintasi berbagai wilayah. Beberapa di antara anak-anak sungai ini bahkan dihuni oleh manusia, membentuk pemukiman-pemukiman yang tersebar di sepanjang alirannya.
Perjalanan menyusuri hulu Sungai Kayan, yang dikenal sebagai "mudik Kayan," membawa kita ke beberapa lokasi penting. Pertama adalah Sungai Banyang, yang meskipun dihuni oleh banyak manusia, namun dikenal sebagai sungai yang liar dengan arusnya yang kuat. Setelah melewati Banyang, perjalanan berlanjut hingga mencapai daerah yang disebut Inga Payak, sebuah titik penting dalam alur sungai.
Dari Inga Payak, penelusuran terus ke hulu menuju Maong, yang kemudian diikuti oleh Sungai Mau dan Sungai Tebidah. Setiap lokasi ini memiliki cerita dan keunikan tersendiri, menjadi bagian dari realitas perjalanan mudik di Sungai Kayan. Nanga Tebidah, khususnya, adalah sebuah tempat yang menyimpan banyak kejadian penting dari zaman dahulu kala.
Di hulu sedikit dari Nanga Tebidah, terdapat sebuah formasi batu yang dikenal dengan nama Batu Bangkai. Batu ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan saksi bisu dari "zaman Koleng Gana," sebuah masa di mana masyarakat saat itu masih menjalin interaksi dengan Koleng Gana. Keberadaan Batu Bangkai ini menjadi pengingat akan era kuno yang melingkupi wilayah tersebut.
Setelah melampaui Nanga Tebidah dan melanjutkan perjalanan ke hulu Kayan, kita akan menemukan bahwa daerah di sisi kanan sungai tidak terlalu banyak dihuni manusia. Anak-anak sungainya cenderung lebih kecil dan kurang padat penduduk. Namun, setelah melewati zona ini, kembali kita akan menjumpai area yang lebih ramai dengan banyak kampung dan penghuninya.
Perjalanan terus berlanjut ke hulu hingga mencapai Nanga Masau, sebuah lokasi yang sangat kaya akan kisah dan peristiwa. Nanga Masau dikenal sebagai tempat di mana banyak kejadian penting di tanah ini berlangsung, melibatkan tokoh-tokoh yang paling tua dan dihormati di sana. Keberadaan mereka menjadi pondasi bagi sejarah dan tradisi setempat.
Di antara tokoh-tokoh sepuh tersebut adalah Mia Petalon, seorang wanita yang dihormati sebagai salah satu manusia tertua di Nanga Masau. Mia Petalon diketahui adalah istri dari Mamang Biang, dan kisah-kisah mereka berdua menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya di daerah ini. Banyak kenyataan dan kejadian penting terukir di tanah Nanga Masau berkat kehadiran mereka.
Lebih jauh di hulu, di daerah Umak Modang, terdapat beberapa penanda alam yang signifikan. Di sana ada Batu Anjing, sebuah formasi batu yang menyerupai anjing, serta Ombak Modang dan Batu Bubu Sengkumang. Di Umak Tampont juga terdapat Bubu Sengkumang, sebuah perangkap ikan tradisional yang kini menjadi batu, menandakan betapa kuno dan alaminya praktik hidup masyarakat di sana.
Dari cabang Masau, perjalanan dapat berlanjut hingga ke Sungai Pedini, yang juga menyimpan sebuah kisah romansa dan tragedi. Di sinilah kisah manusia bernama Pedini dan Tajak bermula. Pedini diceritakan sebagai seseorang yang tidak bisa menjadi tua, sementara Tajak adalah seorang perantau yang bahkan tidak mengenal ibunya sendiri.
Meskipun dengan latar belakang yang berbeda, Pedini dan Tajak memiliki keinginan yang sama untuk menikah. Namun, ada sebuah syarat yang harus dipenuhi: mereka harus menuruni Ombak Gurung Tajak, yang dinamai dari peristiwa yang melibatkan dirinya sendiri. Sayangnya, Tajak disuruh berlabuh di Gurung Tajak dan kemudian meninggal di sana. Hingga kini, perahu Tajak yang terbalik di Gurung Tajak telah berubah menjadi batu, menjadi monumen abadi bagi kisahnya.
Sungai Masau sendiri kemudian diberi nama berdasarkan anak dari Pedini dan Tajak, mengabadikan warisan keluarga mereka dalam geografi tempat itu. Lebih jauh ke hulu dari Masau, perjalanan akan membawa kita sampai ke Melanuk, sebuah desa yang dulunya dikenal sebagai Naluk. Nama desa ini kemudian diubah menjadi Tapang Menua, mencerminkan perubahan dan perkembangan komunitasnya.
Di salah satu anak Sungai Masau, terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai "Orang Tapa Batu Udah," tempat di mana orang-orang dahulu melakukan meditasi di atas batu. Kami pernah melihatnya, meskipun sekarang sebagian sudah patah dan sulit dikenali. Di Pancur Resam, di dalam anak Sungai Masau, juga dikatakan ada Sengkumang yang disembunyikan.
Memang, Sungai Masau ini banyak dihiasi dengan batu-batu, yang sebagian besar telah berubah menjadi batu seiring waktu. Bahkan, ada pula "gendang gong Sengkumang" yang tersembunyi di dalam sungai Masau, menunjukkan kekayaan budaya dan misteri yang tersimpan di dalamnya. Inilah sungai dengan banyak kejadian dan cerita yang terukir di sepanjang alirannya.
Demikianlah rangkaian kejadian di Sungai Kayan yang panjang, yang kemudian menyambung hingga ke Masau. Ada kalanya nama Kayan mungkin salah disebut untuk merujuk ke Masau, menunjukkan betapa eratnya hubungan kedua sungai ini. Cerita tentang Sungai Masau, dari Nanga Kayan hingga ke hulu Kayan yang beranak ke kiri, merupakan pengetahuan lokal yang mendalam, yang mungkin tidak diketahui oleh orang-orang di luar wilayah tersebut.