Potong Kompat
Potong Kompat
Dahulu kala, hidunglah seorang tokoh agung bernama Jubata yang memiliki nama lain Mamang Tompah Bisa. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Mia Sori Ada atau Mia Sori Kaya. Pasangan ini merupakan sosok sakti yang menciptakan segala isi alam, mulai dari gunung-gunung, danau, hingga berbagai jenis binatang dan tumbuhan, karena pada masa itu dunia masih kosong dan belum berpenghuni.
Jubata dan istrinya memiliki tujuh orang anak laki-laki. Anak keenam diberi nama Potong Kompat, sedangkan yang bungsu bernama Laban Sonak. Potong Kompat lahir dengan kondisi fisik yang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, yakni tidak memiliki tangan maupun kaki. Meski demikian, ia tetap memiliki nyawa dan kepala yang utuh sebagaimana manusia lainnya.
Pada zaman itu, manusia mengonsumsi padi yang ukurannya sangat besar, tidak seperti padi kecil yang kita kenal sekarang. Laban Sonak, si bungsu, suatu ketika meminta nasi dari padi kecil. Ibunya kemudian berpesan bahwa padi kecil itu hanya akan ada setelah ia meninggal dunia. Ia meminta anak-anaknya untuk menanam tumbuhan yang muncul di sisi kuburannya kelak.
Setelah sang ibu wafat, benarlah tumbuh padi dengan bulir kecil di samping makamnya. Padi inilah yang kemudian menjadi asal-muasal padi yang ditanam dan dimakan oleh manusia hingga saat ini. Jubata pun tak lama kemudian menyusul istrinya berpulang ke alam baka, meninggalkan harta benda yang sangat banyak bagi ketujuh anaknya.
Sayangnya, kakak-kakak Potong Kompat memiliki sifat yang cukup kejam. Saat membagi harta warisan orang tua mereka, mereka memandang rendah Potong Kompat karena kondisi fisiknya. Mereka hanya memberikan tanah di bawah dapur sebagai bagian warisannya, sementara saudara-saudara yang lain berbagi harta yang jauh lebih berharga dan berlimpah.
Merasa malu dan tersisih, Potong Kompat hanya bisa berguling-guling hingga terjatuh ke dalam sebuah lubang galian di tanah. Di dalam tanah tersebut, ia bertemu dengan penguasa alam bawah bernama Puyang Gana. Puyang Gana sebenarnya adalah sosok ular tua yang agung, yang dalam silsilahnya disebut sebagai nenek moyang segala ular.
Potong Kompat kemudian diselamatkan oleh anak Puyang Gana yang bernama Mia Petarum. Mia Petarum menyayat tubuh Potong Kompat sedemikian rupa sehingga secara ajaib muncul tangan dan kaki yang sempurna. Karena keajaiban dan kebaikannya, Potong Kompat akhirnya dijadikan menantu oleh Puyang Gana dan hidup menetap di dalam tanah bersama istrinya, Mia Petarum.
Sementara itu, keenam saudaranya yang berada di permukaan bumi mulai kehabisan persediaan padi dan hendak membuka ladang baru. Namun, setiap kali mereka menebas kayu pada siang hari, kayu-kayu tersebut tersambung kembali secara misterius pada malam harinya. Hal ini terjadi berulang kali hingga membuat mereka bingung dan memutuskan untuk mengintip siapa pelakunya.
Saat mengintip, mereka bertemu dengan anak buah Puyang Gana. Makhluk tersebut menjelaskan bahwa kayu-kayu itu disambung kembali atas perintah saudara mereka sendiri, yaitu Potong Kompat. Ternyata, segala tanah yang ada di alam ini telah menjadi milik Potong Kompat, dan siapa pun yang ingin mengambil hasil dari tanah tersebut harus melakukan pertukaran atau membayar upeti.
Keenam bersaudara itu akhirnya mendatangi Potong Kompat di alam bawah untuk meminta izin berladang. Potong Kompat meminta mereka menukarkan harta warisan ayah dan ibu mereka, berupa tempayan berisi emas serta cincin dan gelang, sebagai syarat agar bisa bercocok tanam. Sejak saat itulah dimulai adat pertukaran dan tata cara berladang bagi manusia.
Potong Kompat juga memberikan berbagai pesan mengenai pantangan dan pamali dalam berladang serta hidup di alam. Ia mengajarkan tentang burung-burung yang harus dihormati, seperti burung Tingang. Ia memperingatkan bahwa manusia tidak boleh menertawakan binatang, karena melanggar pamali tersebut bisa mendatangkan bencana berupa sambaran petir yang nyata.
Hingga saat ini, kisah Potong Kompat menjadi dasar adat istiadat dan kepercayaan masyarakat. Cerita ini menghubungkan silsilah manusia dengan kekuatan alam, termasuk hubungan besan antara Jubata dengan Puyang Gana sang penguasa ular. Keberadaan pamali dan aturan alam tersebut tetap dijaga sebagai warisan turun-temurun dari sang penguasa tanah.